Jumat, 27 Mei 2011

Beri Kami Biangnya, Jangan Botolnya

Melembagakan Budaya Uswah/Suritauladan)

LELAP TAK BERDAYA
Kita tidur lelap, demikian nyenyaknya sampai kita tidak sadar para pencuri telah masuk ke rumah, melongok, berjingkat-jingkat dan mengendap-endap dan melihat kita yang tergolek demikian lelapnya, dengan mencibir dan sinis mereka melewati tempat tidur kita, mereka hafal betul seluruh ruangan dan kamar kita seolah-olah merekalah pemilik rumah. Para pencuri ini telah lama merencanakan pencurian di rumah kita, dipelajarinya dengan seksama kebiasaan-kebiasaan kita, kebiasaan harian kita, mingguan, bulanan dan kebiasaan tahunan kita, sehingga mereka tahu persis segala rutinnya aktifitas kita dari mulai subuh, pagi, siang, malam dan seterusnya, dari saat kita terjaga dan tertidur, sepertinya para pencuri ini juga mampu mencuri mimpi-mimpi kita, harapan, gagasan dan ide-ide kita. Mereka telah mengenal kita bagaikan mengenal anaknya sendiri, hafal betul dengan dengus nafas kita, watak, karakter, kolokan dan manjanya kita (ya’rifunahuu kama ya’rifuuna abnaa ahum, QS. 2 ; 146 “kenalnya mereka kepada Muhammad (Alqur`an, Islam, kebenaran) seperti mengenal anaknya sendiri, tetapi kebenaran ini mereka sembunyikan)”.

Mereka susun strategi dan taktik, mereka terus awasi kita; kapan kita lengah, kapan kita tidak terjaga dan kapan mereka bisa masuk ke rumah kita dengan aman. Kesempatan itu kini datang, pencuri telah masuk ke kamar yang paling pribadi kita kemudian mereka ambil benda serba bisa dan yang paling berharga satu-satunya milik kita, satu-satunya benda penggerak kehidupan kita, satu-satunya alat detektor mana sinyal bahaya dan sinyal aman suatu keadaan, alat ini dapat mengendus mana jalan ke surga dan neraka. Para pencuri telah menukar benda tersebut dengan yang SERUPA tapi TAK SAMA.
Ketika kita bangun dan terjaga, kita senang benda berharga itu masih ada dalam genggaman kita, kita merasa nyaman tanpa kita sadari sebenarnya benda yang kita pegang palsu, yang asli telah dicuri.
Benda asli dan berharga milik kita satu-satunya tiada lain adalah KEMURNIAN ISLAM. Maka ketika kita bangun dan terjaga dari lelapnya tidur, kita berdo'a :
:”Alhamdulillahil ladzii ahyaanaa ba`da maa amaa tanaa wa ilahin nushuur”. “Segenap puji milik Allah yang telah menyadarkan dan menghidupkan kami dari kematian akal dan pikiran, dari kebodohan akan kebenaran, Allah telah menghidupkan aqal sehat kami, kesadaran kami dan kepada Allah segala urusan dikembalikan”.
Pencuri yang telah sukses menukarkan barang berharga satu-satunya milik kita tiada lain :
“Walan tardlo ankal yahuudu walan nashooro hatta tattabi`a millatahum, QS : 2 : 119, red)” Yaitu Yahudi dan Nashroni serta orang-orang Islam yang bermental pencuri seperti mereka. Mereka selamanya tidak akan ridlo, tidak akan rela, tidak akan suka kepada kita, bahkan benci yang amat sangat kecuali kita mengikuti cara berfikir, bertindak dan berperilaku seperti mereka.
Akhirnya, Benda palsu yang kita bawa-bawa selama ini kemana saja; ke tempat kerja kita, ke dalam profesi kita, baik sebagai kiyai, ustadz/dzah, politikus, teknokrat, birokrat, dll, ternyata justru telah melahirkan kebodohan, keserakahan, kepicikan dan kecengengan, bahkan perseteruan dan permusuhan di antara kita yang berkepanjangan. Ruh kemurnian ajaran Islam tidak terpancar dari perilaku para decision maker (pembuat kebijakan) di negeri ini, dari tokoh-tokoh agama, para pimpinan yang memiliki lembaga lembaga pendidikan Islam.
Islam tidak ditampilkan dalam uswah kedewasaan dan kedermawanan Abu Bakar Ash Shiddiq, kelembutan dan kesederhanaan seorang Utsman bin Affan, dalam ketegasan, keberanian serta gagahnya Umar Bin Khattab, Islam tidak tampil dalam kecerdasan, kelincahan, dinamis dan kreatifnya seorang Ali Bin Abi Thalib. Demikian senangnya kita dalam Kepalsuan Islam, betah dalam mengajarkan kepalsuan Islam kemana-mana tanpa kita sadari akhirnya, penyakit TBC AKUT (Takhayul - Bid`ah - Churafat - mental budAK dan penaKUT) menggerogoti tubuh kita dan telah menyerang seluruh sendi-sendi, tulang dan sel-sel ruhul Islam. Orang-orang Islam tidak tampil dalam wajah sehat, kuat, ceria, fresh, prima, indah, nyaman, sejuk, lembut. Yang nampak sekarang wajah orang-orang Islam yang sangar, bengis, reaktif, wajah korup, licik, kemaruk, pemarah dan pendendam. Orang-orang Islam tampil dalam wajah-wajah pesakitan, wajah-wajah yang termarjinalkan, terpinggirkan, tersisihkan, wajah-wajah yang tidak mau repot, wajah-wajah kebingungan, gampang kagetan, juga gampang pingsan, wajah-wajah yang dikalahkan, wajah-wajah pecundang.

MAYORITAS YANG MINORITAS
Mayoritas orang-orang Islam di negeri ini berbuih-buih, putih bergemuruh bagaikan mengatasi gelombang, tapi kenyataannya, justru buihlah yang diombang ambing ombak, tanpa mampu menjadi kokoh dan tegarnya karang, mudah diadu kambing dan dikambinghitamkan, mudah dipecah dan senang membuat perpecahan, mudah dibujuk dan senang menjadi perajuk.
Sebuah dialog abadi antara delegasi Islam dengan pembesar-pembesar Non-Muslim menyindir kita.
“Mana orang-orang dulu yang pernah menaklukkan kami?”
Bingung dan kaget kita balik bertanya “yang mana maksud tuan?”
“Mereka, orang-orang yang memiliki tanda di dahinya bekas sujud, perutnya kempes, sorot matanya tajam bersinar namun lembut dan selalu memakai terumpah usang?”
Kita terhenyak malu ‘mereka sudah tidak ada tuan’.
mereka kembali menyindir kita : “tuan-tuan, anda sekarang hebat dan gagah memakai penutup kepala berbagai model dan warna, mengenakan sorban, koko yang trendy mengikuti mode, perut yang gendut tapi lebih pantas disebut buncit, dan anda mengenakan sepatu bermerk dan berkelas. Hem, .....tetapi bagi kami, maaf. Mereka jauh lebih hebat dan lebih gagah dibanding anda, dan jauuuuh lebih memenuhi janji dan bukti ketimbang anda, kami respek dan takluk kepada mereka, karena mereka tidak pernah memperlakukan dan mempermalukan kami sebagai orang-orang yang kalah perang, mereka hormat kepada pemimpin pemimpin kami walaupun kami kalah, mereka tidak pernah merusak kehormatan keluarga kami, tidak merusak kehormatan anak perempuan kami, tidak merusak tempat peribadatan kami, tidak merampok hewan ternak kami, tidak merusak hutan dan tanaman kami, dan yang harus tuan-tuan ketahui, mereka tidak mengusik adat kebiasaan kami. Sekiranya mereka masih ada, kami akan berkhidmat dan mengabdi kepada mereka”.
Pengakuan jujur seorang Yahudi militan yang diwawancarai CNN mengatakan bahwa umat Islam memang benar akan mampu mengalahkan kami sesuai dengan sinyalemen Nabi Muhammad SAW, kalau salah satu indikator utamanya sudah nampak di mana-mana. Apa itu? Yakni apabila jumlah umat Islam yang berjamaah shalat shubuh sama banyaknya dengan yang shalat jum’at.
Seorang Zionis Yahudi Militan staff ahli PM. Golda Meir pernah mengatakan kami akan merasa ngeri dan takut apabila orang-orang Islam berlomba-lomba untuk mati syahid ketika berperang melawan kami, di hati mereka kenikmatan yang paling tinggi adalah mati syahid karena mereka akan menemui tuhannya dalam membela agamanya tanpa dikafani, tanpa dimandikan lengkap dengan darah dan seragamnya. Tetapi sementara ini kita masih safe, aman karena orang Islam lebih cinta pada anak dan keluarganya, pada rumah dan kebunnya pada hewan ternak peliharaannya ketimbang mencintai tuhannya.

PARA PENJAJA BOTOL
Kita senang bergegap gempita dalam ritual harian, mingguan, bulanan dan tahunan tetapi sunyi senyap dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik kita, sehingga wajah-wajah Islam tampil dalam kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan. wajah-wajah yang seharusnya tampil menjadi tuan rumah di negerinya sendiri justru tampil kelimpungan dan kelaparan bagaikan tikus mati di lumbung padi. Karena kepalsuan Islam telah menjadikan kita robot-robot kapitalis-individualis. Negeri yang berdaulat kini telah ditukar/digadaikan dengan nilai dunia yang sedikit.

Sebuah sinyalemen Rasulullah mengatakan :”apabila umatku telah menganggap kehidupan dunia jauh lebih hebat ketimbang kehidupan akhirat, maka akan Allah cabut kehebatan Islam dan Allah haramkan keberkahan wahyu”.
Semarak kita beraktifitas dalam kehidupan politik; saling berebut kursi kekuasaan persis diibaratkan negara Mobocracy (mob : gembel , cratein : kekuasaan, sisi buruk dari akibat democracy : demos : Rakyat, cratein : kekuasaan).
Jika negara dikuasai para gembel ‘berdasi’ mereka hanya mampu berpikir sebatas kebutuhan perut dan bawah perutnya. Hanya untuk memuaskan kebutuhan pribadi dan kelompoknya. Bahkan Aristoteles pun mengatakan bentuk negara yang paling buruk adalah justru demokrasi. Karena melalui demokrasilah seorang atau sekelompok orang bisa memaksakan kehendaknya dengan berlindung di balik nama HAM (hak asasi manusia) untuk mengobok-obok republik ini.
Akal pikiran yang tidak dibimbing oleh kemurnian ruh ajaran Islam tidak akan sanggup melahirkan kebijakan kebijakan yang berpihak kepada kebenaran. Berapa miliar rupiah biaya yang harus dikeluarkan oleh sesorang atau sekelompok orang untuk memuluskan jalan ke puncak kekuasaan di negeri ini, dan pada saat yang bersamaan berapa peraturan dan kebijakan baik tertulis maupun tidak tertulis yang harus dibuat, baik dengan bisikkan, dengan kedipan mata, atau pun melalui pesan singkat untuk menghasilkan, mengembalikan modal mereka. Bila perlu pundi - pundi depositnya untuk anak cucu keturunannya.
Sungguh tragis bahkan bisa disebut tragedi kepemimpinan di negeri ini, seakan-akan kita pura-pura lupa ‘arrosyi wal murtasyi fin naar” (orang yang disuap dan para penyuap akan menciptakan kerusakan di negeri ini). Aneh, ini jadi trend di negeri tercinta ini, atas nama konsolidasi, atas nama suksesi kepemimpinan, atas nama alias atas alias nama, dan seterusnya lipstik-lipstik bahasa penyuapan kita buat.
Seseorang atau sekelompok orang (para oligoi) yang sedang dipuncak kekuasaan sering disebut sebagai ‘top leader’, padahal makna ‘lead’ adalah membimbing, mengarahkan, melayani, menuntun. Maka seorang pemimpin seharusnya adalah pelayan, penggembala umat, pembimbing umat. Dan makna top adalah ‘utama’, ‘prima’ dalam memberikan pelayanan (lihat kamus English - Indonesia : John Mc. Echol & Hasan Sadily). Seorang Top Leader adalah tugas dan kewajibannya memberikan pelayanan yang prima dan mengutamakan pelayanan kepada rakyat, bukan dibalik; rakyat yang melayani pemimpin; Dia tidak akan sanggup tidur sebelum rakyatnya kenyang, tak sanggup melahap makanan apabila rakyatnya lapar, batinnya berontak di kamar yang berAC karena hujan dan angin masih menerpa rumah-rumah rakyatnya.
Para oligoi yang menguasai negeri ini kian menancapkan kuku keserakahannya ketika ekonomi (kebutuhan mendasar rakyat) dikuasai mereka. Dengan sesuka hati mereka timbun, mereka dongkrak harganya dan tragisnya negara tak mampu melindungi harga kebutuhan mendasar rakyat.
Sungguh benar apa yang disampaikan oleh almarhum Buya Hamka (Allahumma yarham); bahwa negara akan rusak apabila penguasa dekat dengan pengusaha atau penguasa yang menjadi pengusaha. Peraturan yang akan dibuat pun tentu akan disesuaikan dengan selera mereka. Menguntungkan atau akan merugikan?”. WS Rendra menyindir lewat puisi yang dibacakan ketika kerusuhan 13 Mei 1998. Karena kami makan akar dan terigu menumpuk di gudangmu, karena kamu kaya, maka kita bukan sekutu, Karena kami kucel, dan kamu gemerlapan...Karena kami sumpek, dan kamu mengunci pintu...maka kami mencurigaimu, karena kami terlantar di jalan, dan kamu memiliki semua keteduhan, karena kami kebanjiran, dan kamu berpesta di kapal pesiar, maka kami tidak menyukaimu.
Khalifah Umar Bin Khattab mengadakan sidak (inspeksi dadakan) ketika para pembantunya sudah lelap tertidur; dia cek setiap malam keseluruh negeri dengan hanya didampingi seorang pengawal setia dan kepercayaannya, dia temukan kenyataan bahwa ada rakyat di wilayah kekuasaannya, yang lapar, yang tega membohongi anak-anaknya dengan merebus batu agar bisa mendiamkan tangisan anak-anaknya yang lapar. Umar menjerit dan berontak batinnya tak sanggup dia menghadap Allah SWT nanti, rasa marah, malu dan sejuta perasaan kecewa berkecamuk. Malu aku menghadap rabbku sementara apa yang menjadi amanat dan tanggungjawabku telah aku lalaikan, telantarkan, tak bisa aku maafkan dosa-dosa dan kesalahanku.
Utsman Bin Affan segera memadamkan lampu listrik milik negara (PLN) di kantornya ketika datang sahabat lama ingin bernostalgia dan curhat persoalan-persoalan pribadi, karena demikian ‘ekstra hati-hati’nya atas penggunaan fasilitas negara yang bukan haknya, dan sahabatnya hormat atas sikap beliau.
Berbangga-bangga kita dengan semaraknya organisasi dan partai-partai Islam; tetapi kita lupa dengan peringatan Allah dalam Qs. Al Qoshosh 4 : ‘inna fir’auna ‘ala fil `ardhi waja`ala ahlahaa syiyaa’an” mentalitas dan karakter fir’aun di negeri ini cenderung menjadikan penduduknya, warganegara dan ummatnya berpecah belah kedalam berbagai macam kelompok, golongan, organisasi dan partai. Dan ironisnya, lebih fatal lagi kepalsuan ini berujung pada keyakinan yang ditampilkan dalam perilaku kita secara sadar dan bangga (sebut saja ‘takabur’,) bahwa organisasi, kelompok, golongan dan partai kita adalah agama dan ‘tuhan’ kita.
Ilustrasi sederhana lainnya barangkali bisa menyadarkan kita; sebatang lidi mudah dipatahkan tetapi sebuah sapu lidi akan sulit dipatahkan. Berserakannya partai-partai Islam akan memudahkan musuh-musuh Islam menghancurkan kita dan kian sulit bagi kita untuk menegakkan din kalimatullah.
Perselingkuhan kita ini, penghianatan kita ini dengan menduakan Allah kekasih kita dengan yang lain membuat DIA tidak akan menangguhkan azabNya. “Lu jual gua beli” kata Allah dengan murkanya dalam QS. Al-An’am ayat 44. :
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira ‘mabuk dalam kekuasaan, kesenangan’, kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka seketika itu juga mereka bungkam putus asa.”
Kesenangan sesaat dan datangnya azab secara mendadak membuat kita sontak terhenyak;”masih betahkan kita dengan botolnya tanpa mau biangnya?, Masih sukakah kita dengan tampilan fisik luarnya tanpa ruhnya?”.

Sukabumi, Nopember 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar