Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Mei 2011

Dari Asongan ke Gedongan (Inspiring True Story)

Subuh yang menggigil masih menyisakan embun semalam nampak masih bergelayutan di sela-sela gerobak pasar, di celah-celah daun singkong dan sayur mayur yang ditebarkan di pinggir hingga sebahu jalan, bau khas sampah yang menyengat seakan khas aroma pasar pelita sukabumi, mungkin juga semua pasar di kota-kota lainnya, lelaki muda itu jalan berjingkit – jingkit kadang sedikit melompat menghindari jebakan kubangan comberan pada jalan aspal berlobang. Aspal berlobang kian bertebaran akh, ..... siapa sih yang senang menanam lele jumbo di sini, ehm, kayaknya ada yang kerjasama nih sama perikanan, pikirnya nyeleneh. Kedua telapak tangannya kembali ditempelkan di kedua belah pipinya melawan dinginnya udara subuh.
Di ketika subuh dingin yang berulangkali, lelaki muda itu kembali berusaha menjajakan dagangannya, sambil sesekali mengatupkan bibir dan giginya karena dingin yang demikian menggigit. Kotak dagangan rokok yang selalu dibawa dia tutupi dengan sehelai plastik karena khawatir kelembaban udara subuh akan merusak barang dagangannya, sesekali dia menyapa dan disapa pedagang sayur di sekitarnya.
“dingin sekali ya pa?” sapanya

Mama Ajeungan Ahmad Sanusi

Sosok Ajengan
KH. Ahmad Sanusi



Asal Kelahiran
Dilahirkan pada tanggal 3 Muharam 1036 H (18 September 1889). Ibunya bernama Empok, ayahnya, Haji Abdurrahim bin Haji Yasin, seorang tokoh masyarakat dan kyai Pesantren Cantayan, Desa Cantayan Kecamatan Cikembar, Kawedanaan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.

Perjalanan Intelektual
Mula-mula mendapat pelajaran dan pendidikan langsung dari ayahnya. Setelah cukup dewasa, kemudian disuruh belajar di berbagai pesantren yang ada di daerah Sukabumi, daerah Jawa Barat dan sekitarnya. Beliau menimba ilmu di berbagai Kyai terkenal pada waktu itu, antara lain:

Tas Dan Irama Kehidupan (Kisah Nyata 2)

PAGI yang cerah, segelas kopi kental hangat dan dua potong pisang goreng menemani pagiku, sementara “belu” kucingku menyapaku dengan mengais-ngaiskan lehernya di kakiku. Wuah, sungguh pagi yang ramah, sejuk, angin kecil mencoba menerobos pori-pori bilik kamarku.
‘assalamu `alaikum’ terdengar suara orang mengucap salam, nadanya dalam dan berat, pertanda orangnya tua dan berwibawa.
‘wa’alaikum salam’ sahutku sambil kubuka pintu, dan dugaanku meleset, ternyata orangnya masih muda dan cukup berwibawa, dan dilihat dari penampilannya, ini tamu pasti orang penting, akh, aku tidak mau mereka-reka, suka meleset (pikirku), yang penting prinsipku setiap orang yang datang kerumahku selalu kuperlakukan orang penting, tapi siapa gerangan, tamu pagi istimewa ini.
‘apa betul ini rumahnya pa burhan?’
‘ya, betul, pak. Saya sendiri, dan ....”
“kenalkan saya, pa Yuda .....”

Ketika Aku Tak Bisa Lagi Sekolah

Cerita singkat ini hanya imajinasi nalarku yang berkelana ke tragedi gempa dan tsunami dan mencoba masuk dalam suasana asa ketakutan, kengerian yang tidak terperi, kesedihan, nelangsa saudara-saudaraku di sana. Tentu tulisan ini jauh dari musibah yang sebenarnya, sakit yang sebenarnya, nelangsa yang sebenarnya. Tapi aku mencoba berbagi perasaan. Mudah-mudahan Aceh bangkit dan jaya kembali sebagai sebuah serambi Mekkah, Penulis.

MINGGU PAGI yang cerah, angin berhembus perlahan, lembut dan dedaunan masih menyisakan embun sisa semalam, kehangatan matahari menembus ke bilik kamar bambuku, hangat dan membuat aku menggeliat bangun. Hari ini minggu, 26 Desember 2004 pukul 08.35, akh masih pagi, tokh sekolah libur, tokh orang-orang juga masih pada tidur, masih bermalas-malasan, akh, pagi ini apa acaraku ya, kumpul dengan teman, main ke pantai atau buka-buka buku pelajaran, wuah, malas aku. Tiba-tiba terasa goncangan yang cukup keras pada tempat dimana aku tinggal pada bale dimana aku sedang tiduran, gempa melanda, duh, besar amat ini gempa ko lama lagi, ya, ya masih terasa, aku segera keluar karena gubukku berderak-derak, ya tuhan aku takut, sungguh aku takut sekali, ko lututku menggigil tak bisa digerakkan.